Hercules Menteng

Ketika abah lulus SR di tahun 1957, lalu masuk ke SMPN 8 Pegangsaan Barat. Baru deh uyut Rais ngajak abah nonton filem Hercules yang dipertunjukan di bioskop Menteng. Tapi ya gituh abahnya kudu make pantalon biar kelihatan dah gede. Meski biarpun tampilan abah sudah dipermak habis2an juga, tapi yang namanya kelakuan anak kecil mah tetap aja teramat sangat kentel. Meski pepatah Belanda mengatakan, “Kluur maaking de mans” juga. Gini ceriteranya lho Gaby….
Hercules itu menampilkan sosok manusia setengah dewa. Sebagai putra Zeus, maka Hercules punya kekuatan sangat hebat seperti yang dipertunjukkan oleh bangun tubuhnya yang sangat berotot. Hercules selalu menjadi pahlawan pembela keadilan. Hercules juga mampu menaklukan musuh atau binatang buas seperti singa jantan, atau kerbau yang paling besar sekalipun. Di filem ini ada adegan Hercules melawan banteng ngamuk.
Adegan seperti ini biasanya dipasang di akhir ceritera, penonton lagi asyik2nya menatapi layar putih. Suasana hening tak bersuara saking lahapnya mata penonton menikmati pertunjukan yang hebat sekali ini. Nah disaat tangan berotot Hercules memegangi tanduk banteng ngamuk. Tanpa sadar abah berteriak, “Horeeeee….Ayo lawan…. Horeeee.” Seru abah dengan nyaring seraya bertepuk tangan dengan riuh. Tatkala menyaksikan betapa dengan kepalan tangannya Hercules mampu membunuh banteng itu. Tapiiii, uyut Rais mencolek pinggang abah sambil berbisik memperingatkan.
“Emaaaaaannnnn….. Hussss eman jangan berisik……Emaaaaaan.” Abah langsung terdiam karena merasakan ada cubitan ringan di kulit perut.. Tapi tak lama kemudian lampu ruangan menyala terang, seiring tulisan The End dilayar..
Dalam perjalanan kepintu keluar, bahkan sampai kami naik becak. Beberapa pasang mata tampak memperhatikan langkah kami. Merasa bersalah, sambil berjalan gontai abah juga mengheningkan cipta dalam dalam. Duh maafin abah dah bikin uyut malu banget. Itulah kali terakhir abah nonton di bioskop bersama dengan uyut.