Thursday, December 20, 2007

Most Popular Outgoing Link by MyBlogLog Click Tagging.

Most Popular Outgoing Link by MyBlogLog Click Tagging.
Ranking of 80 blogs, on date Dec 20th, 2007. Hours 18.00
(vide URL http://renungansekilas.blogspot.com/)

Abah, 2nd. Azizah, 3rd. Inara, 4th. Renungan, 6th.
TebakManggis, 7th. Technorati, 8th.

Santa’s Link Love: Santa’s Link Love… Update Three
Technorati Profile

Posted by Abah Eman at 11:02:57 | Permalink | No Comments »

Hercules Menteng

Ketika abah lulus SR di tahun 1957, lalu masuk ke SMPN 8 Pegangsaan Barat. Baru deh uyut Rais ngajak abah nonton filem Hercules yang dipertunjukan di bioskop Menteng. Tapi ya gituh abahnya kudu make pantalon biar kelihatan dah gede. Meski biarpun tampilan abah sudah dipermak habis2an juga, tapi yang namanya kelakuan anak kecil mah tetap aja teramat sangat kentel. Meski pepatah Belanda mengatakan, “Kluur maaking de mans” juga. Gini ceriteranya lho Gaby….
Hercules itu menampilkan sosok manusia setengah dewa. Sebagai putra Zeus, maka Hercules punya kekuatan sangat hebat seperti yang dipertunjukkan oleh bangun tubuhnya yang sangat berotot. Hercules selalu menjadi pahlawan pembela keadilan. Hercules juga mampu menaklukan musuh atau binatang buas seperti singa jantan, atau kerbau yang paling besar sekalipun. Di filem ini ada adegan Hercules melawan banteng ngamuk.

Adegan seperti ini biasanya dipasang di akhir ceritera, penonton lagi asyik2nya menatapi layar putih. Suasana hening tak bersuara saking lahapnya mata penonton menikmati pertunjukan yang hebat sekali ini. Nah disaat tangan berotot Hercules memegangi tanduk banteng ngamuk. Tanpa sadar abah berteriak, “Horeeeee….Ayo lawan…. Horeeee.” Seru abah dengan nyaring seraya bertepuk tangan dengan riuh. Tatkala menyaksikan betapa dengan kepalan tangannya Hercules mampu membunuh banteng itu. Tapiiii, uyut Rais mencolek pinggang abah sambil berbisik memperingatkan.
“Emaaaaaannnnn….. Hussss eman jangan berisik……Emaaaaaan.” Abah langsung terdiam karena merasakan ada cubitan ringan di kulit perut.. Tapi tak lama kemudian lampu ruangan menyala terang, seiring tulisan The End dilayar..
Dalam perjalanan kepintu keluar, bahkan sampai kami naik becak. Beberapa pasang mata tampak memperhatikan langkah kami. Merasa bersalah, sambil berjalan gontai abah juga mengheningkan cipta dalam dalam. Duh maafin abah dah bikin uyut malu banget. Itulah kali terakhir abah nonton di bioskop bersama dengan uyut.

Posted by Abah Eman at 10:21:01 | Permalink | No Comments »

“Ayooo cipok….Cipoook…..”

Memasuki duduk dikelas 6 SR, ada perkembangan baru di jalan Gereja Theresia. Setiap malam Minggu suka ada pertunjukan filem di kediaman keluarga Haji Agus Salim yang waktu itu Menteri Luar Negeri Republik Indonesia. Nah kalau yang ini kualitas filemnya hebat2. Karena berasal dari Amerika Serikat. Maklum aja namanya juga pejabat tinggi negara. Mana tokoh Haji Agus Salim ini terkenal sukses mendidik sendiri para putra dan putrinya. Beliau tidak pernah mau mengirim anak2nya bersekolah formal Belanda. Setelah beliau wafat tahun 1954, nama Jalan Gereja Theresia berganti menjadi Jalan Haji Agus Salim.

Di kediaman beliau ini biasanya pada jam 19 malam pintu besi yang terbuat dari besi siku dengan harmonica-gaas dibuka untuk umum yang lalu masuk dan duduk dilantai ruang terbuka yang berlantai jubin. Selepas waktu Isya baru pertunjukan dimulai. Asyiknya selalu timbul tepuk tangan riuh kalau lagi ada pertunjukan koboy yang adu jotos atau baku tembak. Malium aja namanya juga anak kecil, tentunya kami ikutan menjadi bintang filem kalau kebetulan pertunjukannya seru. Namun sebaliknya mereka tak segan mengomel panjang pendek kalau kebetulan filem yang diputar hanya berisi diskusi atau perdebatan. “Huh males guah, sedari tadi cuman ngomong doang. Kapan berantemnyeh. Gak seru aaah!”. Tentu saja keluarga pak haji terkekeh kekeh menikmati celoteh murni anak2. Lain lagi kalau kebetulan ada adegan romansa, belum apa2 kami sudah ramai2 berseru dalam logat Betawi Ora…
“Ayooo cipok….Cipoook….. Ayo samperin jangan melotok doangan luh pada.”

Posted by Abah Eman at 08:38:52 | Permalink | No Comments »

“Dian nan tak kunjung padam”

Sesekali kalau ada pagelaran bioskop oleh Departemen Penerangan yang terkenal dengan semboyannya, “Dian nan tak kunjung padam”, diselenggarakan disembarang tanah lapang, baru deh abah bisa nonton bioskop. Tentu saja sambil berdiri ditengah kerumunan orang banyak. Biasanya di tengah lapangan di tancapkan dua tiang penyangga bentangan layar dari kain belacu putih kekuningan. Sekira 25 meter dari sana diparkir satu unit mobil tugas lapangan yang diatasnya terpasang satu unit proyektor 32mm. Buat daya listrik mereka juga membawa satu unit generator buat penerangan, sombok (pengeras suara) dan proyektor. Dalam semalam biasanya diputar 4-5 reel filem. Satu reel buat penerangan pemerintah. Satu reel buat filem iklan pasta gigi.. Dua reel buat hiburan bisa berupa ceritera drama, komedi atau klasik. Satu reel terakhir biasanya filem laporan pembangunan. Tapi penonton suka males nonton filem terakhir, karena sudah mengantuk. Apa lagi kalau pas tiba2 turun hujan, maka serempak penonton riuh berlarian bubar pulang. Yah namanya aja bioskop misbar. Kalau gerimis ya bubar.

Posted by Abah Eman at 08:14:34 | Permalink | No Comments »

“Zeg jongens. Kowe orang jangan suka…”

Sejak masih tinggal di kampung Baru, meski bertetanggaan sama keluarga2 Belanda yang tinggal di kawasan Menteng sekitar jalan Biliton, Sumbawa, Irian. Kelakuan abah mah tetap aja ndeso. Hobbi tunggal apalagi kalau bukan memanjat pohon kersen yang umumnya ditanam di rumah keluarga Belanda itu sambil memakani buah kemerahan yang manis dan harum itu. Anehnya keluarga Belanda disana diam aja gak pernah ngegebah sekalipun. Kecuali pada tertawa tawa memandangi “monyet” makan kersen yang biasanya menjadi makanan burung ketilang itu. Paling banter 2 atau 3 hari kemudian abah ditegur oleh uyut isteri. Hehehe, aneh. Kok uyut bisa tahu ya? Kan abah melakukannya juga sambil pulang dari sekolah? Makanya jangan suka melawan orangtua yang memang suka pada sakti itu ya.

Hehe, rupanya hasil dari aduan para nyonya yang suka vervelen itu. Karena umumnya mereka menjadi pelanggan bordir uyut Kanti yang terkenal pintar membuat sulaman tangan entah border mesin buat sekalian menjahit kebaya karawang yang lagi jadi mode dikalangan nyonya2 Menteng saat itu. Sulaman yang lagi mode adalah bunga mawar benang sutera warna warni besar2. Abah suka tertawa cekikikan kalau melihat para nyonya lagi ngepas di kamar tidur uyut. Lucu aja kalau melihat yang melepas bra semaunya, lalu buah kelapa yang gundal gandil saat mereka melenggang lenggok dengan ganjennya.
“Hiiiihhh jorok!” Umpat abah seraya menutupi muka dengan bantal.
“Zeg jongens. Kowe orang jangan suka naik2 itu pohon kersen zeg. Nanti patah yaw.” Senyumnya sambil mengusapi dada mentok. Huh sebel!!! Mana ngomongnya didepan uyut Kanti yang mengatur dan mengukur letak kebaya yang langsung dipaskan di badan para bahenol bule yang cekikikannya suka kayak kuda semberani itu. Tapi meski suka vervelen, yang sebagai hukumannya abah kudu ngengkol mesin jahit tangan Singer sampai malam, para nyonya itu suka rajin membawakan esbonbon susu atau coklat buat dibagikan bersama abah Didi dan abah Uud.

Posted by Abah Eman at 07:47:08 | Permalink | No Comments »

ABG diujung 1950an…

Karena raut wajah masih kecil, meski awak jangkung padat juga, sepintas memang bisa aja bagi orang kebanyakan kalau abah dah berumur 17an. Tapi anggota CPM mana bisa di klecein sama anak kecil. Pernah sekali abah kepingin nonton film musikal Elvis yang diputar di bioskop Megaria (d/h Metropole). Buat meyakinkan disaat membeli karcis, abah mengenakan setelan uyut Rais yang saat itu masih seukuran. Pokoknya keren dah penampilan abah yang mengenakan pantalon gabardine dan kemeja lengan panjang teriline merek Arrow oleh2 dari oom Ukak waktu pulang dari Pekanbaru.. Biarpun langkah digagah gagahin juga. Tapi saat sorot mata seorang anggota CPM yang mengawasi loket karcis menatapi raut wajah abah, hati abah bukan cuma berdegup kencang dan dengkul gemetar. Tapi sepercik air hangat terpancur di celana dalam, lalu merembes turun di garis tungkai gabardine. Merasa poatang, abah segera keluar barisan yang tinggal 5 orang lagi sudah mencapai lobang loket itu. Lantas memanggil abang becak buat segera melarikan diri, pulang ke rumah. Coba ituh dasar anak kecil. Kudunya kapan abah ke toilet dulu kan? Makanya jangan suka bohong matak groggy!

Posted by Abah Eman at 07:17:24 | Permalink | No Comments »

Aa-Eman

aa-eman
19th Dec 9:39 pm

Salam terimakasih puan. Saya senang kalau puan suka akan ohazizah. Puan betul, seluruh kisah yang akan ditulis melulu tentang nostalgia semasa hidup saya untuk Gaby. The only a bit regreat, the blog cannot suit some youtube videos. Since I wish to put inside a lot of special nostalgic song along. But giving such beautiful page looking. I am thinking to build another one in blogspot but still in good looking, since blogspot can acompany with some videos neatly.

Posted by Abah Eman at 06:56:30 | Permalink | No Comments »

Billy’smom

Billy’smom
19th Dec 3:55 pm (reply | report spam | delete)

I like your ohazizah site….nice! Nostalgia gitu…hihi! Thanks for the invitation. :-)

Posted by Abah Eman at 06:06:56 | Permalink | No Comments »

Wednesday, December 19, 2007

“Emaaaaan. Pulangnya jangan malam malam yaaaaaaa.”



Ketika becak sampai ke gang Koperasi, terdengar alunan orkes Melayu. Terdengar juga kumandang pengarah acara kalau sebentar lagi akan dilantunkan lagu Azizah yang akan dinyanyikan oleh satu biduan terkenal. Mendengar itu abah lalu minta ijin ke uyut buat nonton orkes di gang Koperasi II itu. Karena dekat rumah uyut di Jl Kebon Melati II No. 36 (sekarang menjadi Jl Kebon Kacang XXXI, hanya terpaut satu blok saja sekira 300 meteran). Abah beroleh ijin bahkan dibekali tambahan uang seringgit. Sambil berjingkrak jingkrak kegirangan, abah segera saja mendekati arena panggung kenduri khitanan itu.
“Emaaaaan. Pulangnya jangan malam malam yaaaaaaa.” Terdengar seruan uyut Kanti. Abah tak menjawab. Karena selain sudah berada dikerumunan para penonton, juga karena becak yang membawa uyut sudah berbelok kearah Jl Kebon Melati V. Setelah dapat posisi dekat panggung, abah bahkan juga beroleh tempat duduk dan makanan. Entah juga kalau abah dikira anak salah satu tamu disana. Ya haben saja. Mana biduan dah mulai tarik suara lagi.

Rupamu nan jelita, gaya kamu nan manja
Membuat aku kini jadi tergoda
Siang jadi kenangan, malam jadi impian
Karenamu….Azizah.

Refrain:
Putih kulitmu…Putih kulitmu…Pandang tak jemu
Manis senyummu….Manis senyummu…Mulia hatimu

Kalau kau menjadi bunga, biar ku jadi tangkainya.
Asalkan dapat bersama denganmu
Cinta dipadu, oh Azizah.

Refrain:
Putih kulitmu…Putih kulitmu…Pandang tak jemu
Manis senyummu….Manis senyummu…Mulia hatimu

Kalau kau menjadi bunga, biar ku jadi tangkainya.
Asalkan dapat bersama denganmu
Cinta dipadu, oh Azizah.

Gitu lho Gaby, seperti yang abah dengar waktu itu dan dibenarkan uyut beberapa jam kemudian. Hanya saja kalau kita lihat di Youtube.com kok ada versi yang berbeda. Wallahu’alam…

Posted by Abah Eman at 18:08:10 | Permalink | No Comments »

Azizah…

Ketika becak yang kami tumpangi memasuki areal kampung Bali, kembali uyut Kanti tertawa ceria. Karena terdengar ada biduan yang tengah menyanyikan lagu Azizah. Uyut pameget ikutan senyum2 sambil kasih komentar. Klo abah Gaby mah ya gitu itu, kembali bengang bengong gak ngarte. Abah juga diam aja sembari ngutilin kwaci cap kelinci.

“Putih kulitmu….Putih kulitmu…Pandang tak jemu…
Manis semyummu….manis senyummu…Mulia hatimu…”

Duh Gaby, di lagu yang sedemikian indah itu. Hanya selarik refrain itu yang abah ingat. Maafin abah ya chayank. Duh mana abang becaknya juga nyupirnya sembari ngebut, suiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinginginging bunyi siriine karetnya.

Posted by Abah Eman at 14:59:40 | Permalink | No Comments »